Tanda Tangan di Belakang

Kejadian ini terjadi sekitar 7 – 8 tahun lalu dan gak cuma sekali. Waktu itu gue masih bekerja sebagai teller di salah satu bank BUMN. Sebagai teller, ada banyak transaksi yang dilakukan, seperti setor tunai, tarik tunai, pemindahbukuan (transfer), remittance, pembayaran pajak, dan lain-lain. Sebagai teller yang baik, tentu saja transaksi harus dilakukan sesuai dengan aturan, termasuk dalam pengisian formulir transaksi.

Nah, waktu itu nasabah sedang tidak ramai. Gue menerima nasabah perempuan setengah baya yang baru pertama kali melakukan transaksi penarikan dari tabungannya. Gue pun melakukan pelayanan sesuai dengan standar. Si ibu terlihat mengalami kesulitan untuk mengisi formulir karena tidak terbiasa. Dirinya mengakui hal ini ketika gue memintanya untuk menuliskan jumlah penarikan secara di kolom “Terbilang”.

Bagian depan formulir penarikan rekening - Wira Asmo
Bagian depan formulir penarikan rekening BNI

“Bu, mohon diisi kolom terbilang untuk jumlah penarikan yang dilakukan dengan huruf,” kata gue sambil menyerahkan kembali formulir ke tangan si ibu.

“Oh iya, Mas. Saya belum terbiasa jadi ada bolong-bolong. Nggak ngerti soalnya,” kata si Ibu sambil menuliskan terbilang dari jumlah nominal yang ditarik.

“Sekalian saya pinjam kartu identitas, bisa KTP, dan kartu atm-nya ya, bu.”

Si Ibu pun menyerahkan kembali formulir yang sudah lengkap ke gue beserta KTP dan ATM. Gue pun segera memproses transaksinya dan si Ibu memasukkan PIN ke mesin pinpad untuk verifikasi ganda.

Semuanya berjalan lancar sampai dengan proses penghitungan uang. Uang pun gue taruh di atas meja transaksi di hadapan si Ibu untuk diterima beserta formulir penarikan yang harus kembali ditandatangani di bagian belakang.

“Bu, ini uangnya sejumlah lima juta rupiah dan cukup sesuai dengan perhitungan di mesin. Silakan tanda tangan sebagai tanda terima di bagian belakang,” kata gue sambil menunjukkan bagian yang harus ditandatangan di formulir.

“Oke,” kata si ibu sambil mengambil pena ada di meja transaksi.

Gue cuma tersenyum sambil memperhatikan layar monitor untuk kembali mengecek layar transaksi dan memastikan tidak ada yang salah dan klop dengan validasi di formulir, yang udah gue lihat sebelumnya.

“Mas… Saya tanda tangannya di mana tadi kata Mas?”

“Di belakang, Bu?”

“Oh…” Wajah si Ibu terlihat bingung.

Sementara gue kembali melihat layar monitor dan menutup laci uang. Gue gak mendengar suara apapun. Ketika gue mendongakkan kepala, gue cuma melihat onggokan uang lima juta di meja transaksi. Gue celingukan.

LHO!! NASABAH GUE KE MANA???

“Pak Satpam!!”

Satpam pun menghampiri gue.

“Nasabah saya mana?”

“Loh tadi katanya disuruh ke belakang sama Mas. Dia sempet pinjem pulpen saya malahan. Ke toilet kok pinjem pulpen ya, Mas?”

“Haduh… tadi saya cuma minta dia tanda tangan di bagian belakang formulir. Bukan di toilet!”

 

Bagian belakang formulir penarikan rekening BNI - Wira Asmo
Bagian belakang formulir penarikan rekening BNI

 


Tidak untuk ditiru petugas teller lain:

  • berbicara tanpa memperhatikan nasabah.
  • tidak menggunakan kalimat yang lengkap.

-Wira Asmo

Leave a footprint :D

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s