Drama di Air Asia Z2 713 | Manila – Kalibo (Boracay)

Cerita dari Jalan-jalan Pemalas ke Boracay tahun 2015.


Penerbangan gue dari Manila ke Boracay dibatalkan karena alasan operasional. Gue seharusnya terbang dengan Air Asia (AA) nomor penerbangan Z2-8302 tanggal 19 September 2015 pukul 12.25 siang. Namun karena pembatalan, pihak AA memberikan jadwal baru dengan nomor penerbangan Z2-713 di hari yang sama dengan STD 20.00.

DANG!!!

Email perubahan jadwal penerbangan Air Asia - Wira Asmo
Email perubahan jadwal penerbangan Air Asia

Terbang jam delapan malem? Terus mendarat jam sembilan. Gue membayangkan bukan penerbangannya, tapi perjalanan dari Bandara Kalibo ke Boracay yang memakan waktu sekitar dua jam dengan kondisi jalanan gelap. Perkiraan sampai hotel jam sebelas malam.

Tapi yasudahlah, gue nggak mau pikiran negatif gue terlalu memenuhi pikiran dan merusak kesenangan di perjalanan. Toh, gue bisa tidur sepanjang perjalanan.

Namun pihak AA mengubah jadwal penerbangan gue menjadi pukul 17.35 setelah gue menelepon dan meminta mereka mengubah dengan jadwal yang lebih awal.

Drama 1:
Drakor Dua Cewek Nangis di Gate

Seperti kebiasaan gue setiap mau bepergian dengan menggunakan pesawat, maka gue akan berada di bandara lebih awal satu atau dua jam dari jadwal boarding, untuk penerbangan lokal. Jadilah ketika itu, gue dan Jun sudah di bandara Ninoy Aquino Terminal 4 sekitar pukul 16.30.

Ketika pukul 17.30, kami pun bersiap untuk boarding. Namun sayang, pengumuman yang diberikan oleh pihak bandara adalah pesawat kami mengalami keterlambatan.

Di saat yang bersamaan dengan pengumuman yang diberikan pihak bandara, tiba-tiba kami melihat dua cewek Korea yang berlari-lari dengan wajah pucat dan panik dari pintu masuk ke arah gate. Kebetulan mereka melihat gate baru ditutup oleh salah seorang petugas. Wajah mereka pun semakin pucat. Salah seorang diantaranya melihat ke arah layar di atas pintu yang baru saja ditutup dan setengah berteriak ke arah kawannya sambil menunjuk pintu kedua yang berada di balik gate. Keduanya pun menggedor-gedor gate dengan keras.

Semua orang melihat ke arah mereka termasuk petugas. Namun tidak ada seorang pun yang mendekat.

“Jun, do you think they have the same flight with us?” Gue bertanya pada Jun.

“Probably. I heard a bit they speak about 5.35pm flight,” jawab Jun.

“But where do you think they’re going?”

“Same with us, may be, Boracay!”

“Why don’t you approach them and tell them in Korean that the flight is delayed?”

“I don’t know them, Bro. It’s funny anyway. Hahahaha. But, yeah I’ll tell them.”

Jun pun akhirnya meninggalkan gue di bangku tunggu dan mendekati kedua cewek Korea tersebut dan berbicara pada mereka. Kedua cewek tersebut mendengarkan penjelasan Jun dengan menghapus air mata mereka dan berpelukan. Mereka berkali-kali menghela napas panjang.

Yang gue bisa dengar dan mengerti saat itu hanyalah “kamsa hamnida” dan mereka juga sempat melambaikan tangan ke gue sembari tersenyum setelah mendapat penjelasan.

Jun menjelaskan ke gue kalau dua cewek itu terbang langsung dari Korea untuk berlibur ke Boracay. Mereka mendarat dua jam sebelumnya di terminal yang berbeda dan tidak menyangka kalau terminal 4 itu berada jauh dari terminal sebelumnya sementara mereka tidak ada uang Peso untuk membayar taksi ataupun jeepney. Keduanya harus pun harus ke beberapa money changer karena sulit menemukan yang menerima Won Korea. Serunya lagi, mereka tidak terlalu lancar berbicara dalam Bahasa Inggris.

Masih bisa senyum walau delayed - thanks to dua cewek drakor
Masih bisa senyum walau delayed – thanks to dua cewek drakor

Drama 2:
Ibu-ibu yang Mengundang Polisi Bandara Naik ke Pesawat

Setelah delayed sekitar setengah jam, akhirnya seluruh seluruh penumpang bisa masuk ke dalam pesawat.

Ketika hampir seluruh penumpang sudah duduk di bangku sesuai dengan nomornya, tiba-tiba saja ada seorang wanita yang berteriak histeris sambil menangis memasuki pesawat. Wanita itu menunjuk-nunjuk para petugas yang ada di pesawat.

Tiba-tiba dirinya berteriak ketika salah seorang ground staff memasuki kabin dan mendekatinya.

“STAY AWAY!!! I DON’T WANT TO SEE YOU ANYMORE!!!”

“Mam, but we need to … ”

“NO!!! I DON’T WANT TO TALK TO YOU ANYMORE!!!”

Hebohlah seisi pesawat dengan dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi antara wanita itu dengan petugas bandara. Mantan kekasihnya kah? Abaikan.

Beberapa pramugari berusaha untuk menenangkannya, namun wanita itu kekeuh bahwa dirinya merasa terganggu. Kapten keluar dari ruang kendali untuk melihat situasi.

“He was hurting me!! Look at my finger!! Look at my kid!!”

“Oh my god! Come on.. follow me!!” Kata seorang pramugari yang melihat jari wanita tersebut yang berdarah.

Pramugari pun membawanya ke bagian depan pesawat untuk mengobati jarinya.

Sementara itu, petugas bandara yang diteriakinya mencoba kembali masuk dan wanita itu kembali histeris dan melotot.

“GET AWAY!!”

Alhasil sang petugas pun keluar dan para staf di dalam pesawat pun heran.

WHAT’S GOING ON?????

Saat kembali ke tempat duduknya, entah apa yang terjadi, tiba-tiba anak yang dibawa wanita tersebut menangis. Beberapa pramugari menghampirinya dan mencoba menenangkan. Bukannya semakin membaik, keadaan malah semakin buruk.

“Mam, we’re really sorry for what’s going on,” ujar pramugari kepada wanita tersebut.

“SORRY IS NOT ENOUGH!! HE’S HURTING ME AND MY KID!!”

Oh my gooodddd… harus ya dia bicara sambil teriak-teriak Gue, Jun, dan wanita setengah baya yang duduk di samping gue pun terheran-heran.

“What can we do to make everything better?”

“YOU’RE HURTING ME. THERE’S NO APOLOGY, NO SORRY.”

Pramugari yang sedang berusaha berbicara dengan perempuan tersebut menatap wanita tersebut dengan keheranan. Mungkin merasa keki karena permintaan maafnya tak dianggap.

Tiba-tiba saja beberapa petugas polisi bandara naik ke dalam kabin. Dari dalam kabin bisa terlihat beberapa mobil polisi parkir di sebelah pesawat.

What the h*** is going on?? Is she a terrorist??

Gue terus terang tidak terlalu bisa menyimak pembicaraan antara para petugas polisi dengan wanita tersebut. Semuanya pakai Tagalog. Namun seorang penumpang berinisiatif untuk mengajak wanita itu bicara. Sayangnya tidak terlalu efektif. Wanita tersebut berkeras untuk terbang dengan pesawat di mana kami berada sekarang.

Wanita itu terus berbicara dengan nada tinggi dan tidak mengikuti instruksi yang diberikan oleh polisi sehingga membuat hampir semua penumpang kesal.

Ketika polisi berusaha untuk meraihnya dan membawanya, wanita tersebut kemudian memangku anaknya dan menggunakannya sebagai tameng. Polisi tentu saja tidak berani menyentuhnya karena jika menyentuh anaknya itu akan dianggap perbuatan kriminal.

Sebagian penumpang, termasuk gue, meminta maaf kepada wanita tersebut secara hampir serempak.

“Sorry na, if that what you want.”

“They said sorry, you didn’t listen. Now we’re saying.”

“What do you want, mam?”

“Sowwy solly,” beberapa anak kecil ikut bergabung dengan penumpang lain.

“If you want to fly with us, calm down, or simply leave this aircraft. Let us fly.”

Gue pun bertanya kepada pramugari yang ada di dekat gue apa yang sebenarnya terjadi. Pramugari tersebut menjelaskan kalau wanita itu diberhentikan di gate karena dinilai kelebihan barang bawaan. Ground staff menahannya dan menyarankan untuk kembali ke tempat check in untuk memasukkan kelebihan bawaannya ke sana. Namun wanita tersebut menolak dan memaksa menerobos gate dengan membawa tas dan anaknya meski ditahan petugas sehingga menyebabkan dirinya sendiri terluka jarinya. Dari situlah dia mulai meracau.

Polisi terus berusaha bernegosiasi dengannya. Namun tidak menemukan titik terang. Kejadian ini membuat kami tertahan di dalam pesawat kurang lebih satu jam. Sampai akhirnya kapten dan kru kapal meminta maaf kepada seluruh penumpang. Seluruh penumpang diminta turun dari pesawat untuk kembali ke gate dengan membawa seluruh bawang bawaan dan dijanjikan berangkat menuju Kalibo dengan pesawat yang berbeda.

Amukan ibu-ibu itu mengundang polisi bandara ke dalam pesawat - Wira Asmo
Amukan ibu-ibu itu mengundang polisi bandara ke dalam pesawat

Gue dan Jun kembali bertemu dengan dua cewek drakor ketika sedang berada di Paraw Bar. Saat itu kami sedang bersama rombongan dari Pub Crawl, sementara mereka sedang duduk sambil minum bir.

Kembali bertemu dengan cewek drakor - Wira Asmo
Kembali bertemu dengan cewek drakor – Sumber: Pub Crawl

– Wira Asmo

3 thoughts on “Drama di Air Asia Z2 713 | Manila – Kalibo (Boracay)

Leave a footprint :D

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s